Perkembangan Embrio Manusia
di
09.26
Di dalam al Qur'an Allah menurunkan beberapa ayat tentang perkembangan embrio manusia.
Secara bahasa, kata bahasa arab 'alaqah mempunyai tiga makna: 1. lintah, 2. sesuatu yang menempel/tergantung, dan 3. gumpalan darah.
Jika kita membandingkan sebuah lintah dengan embrio pada fase
'alaqah, kita akan menemukan kemiripan di antara keduanya, sebagaimana
terlihat dalam gambar 1. Selain itu, sang embrio pada fase ini
memperoleh makanan melalui aliran darah dari ibunya, mirip dengan lintah
yang menghisap darah dari makhluk lain.
Makna ke dua dari kata 'alaqah adalah sesuatu yang menempel/tergantung. Hal ini dapat kita lihat dalam gambar 2 dan 3, di mana embrio pada fase 'alaqah, menggantung dan menempel pada rahim sang ibu.
Makna ke tiga dari kata 'alaqah adalah gumpalan darah. Kita dapat
melihat bahwa tampilan luar dari embrio dan kantungnya pada saat fase
'alaqah sangat mirip dengan darah yang menggumpal. Hal ini disebabkan
oleh kehadiran darah yang relatif banyak selama fase ini (lihat gambar
4). Pun pada fase ini, darah di dalam embrio belum mengalami sirkulasi
hingga akhir minggu ke tiga. Dengan demikian, embrio pada fase ini
memang mirip gumpalan darah.
Jadi, tiga makna dari kata 'alaqah secara akurat amat bersesuaian dengan keaadaan embrio pada fase 'alaqah.
Bagaimana bisa Nabi Muhammad mengetahui semua rincian ini lebih dari
1400 tahun yang lalu? Padahal para ilmuwan baru bisa mengetahui hal
tersebut di masa moderen ini dengan bantuan peralatan mutakhir dan
mikroskop yang amat kuat? Hamm dan Leeuwenhoek adalah ilmuwan pertama
yang mengamati sel sperma manusia (spermatozoa) melalui mikroskop di
tahun 1677 (lebih dari 1000 tahun setelah jaman Nabi Muhammad). Mereka
berdua secara salah menganggap bahwa sel sperma mengandung manusia mini
yang akan tumbuh ketika ia dibenihkan ke dalam kelamin wanita.
Di tahun 1981, dalam Konferensi Kedokteran Ke Tujuh di Dammam, Arab Saudi, Profesor Moore berkata: "Adalah sebuah kehormatan tersendiri bagi saya untuk bisa membantu memperjelas pernyataan Al Qur'an tentang perkembangan manusia. Sangat jelas bagi saya bahwa pernyataan tersebut tentulah sampai kepada Nabi Muhammad dari Allah, karena hampir semua pengetahuan mengenai hal ini baru ditemukan berabad-abad kemudian. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa Nabi Muhammad tentulah merupakan Utusan Allah.
Kemudian, Profesor Moore ditanya: "Apakah ini berarti bahwa anda mempercayai Al Qur'an merupakan firman Allah?" Ia menjawab: "Saya tidak keberatan untuk menerima hal tersebut."
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan
dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta
Yang Paling Baik.
(Al Qur'an, 23:12-14)
(Al Qur'an, 23:12-14)
Gambar 1. Bagan yang menggambarkan kemiripan dalam hal penampilan antara
lintah dan embrio manusia pada fase 'alaqah. (Dari Human Development as
Described in the Quran and Sunnah, Moore dkk. hal. 37. Digubah dari
Integrated Principles of Zoology, Hickman dkk. Gambar embrio dari The
Developing Human, Moore dan Persad, ed. 5, hal. 73)
Gambar 2. Kita dapat melihat pada bagan ini bagaimana embrio pada fase 'alaqah bergantung dan menempel di dalam rahim
Makna ke dua dari kata 'alaqah adalah sesuatu yang menempel/tergantung. Hal ini dapat kita lihat dalam gambar 2 dan 3, di mana embrio pada fase 'alaqah, menggantung dan menempel pada rahim sang ibu.
Jadi, tiga makna dari kata 'alaqah secara akurat amat bersesuaian dengan keaadaan embrio pada fase 'alaqah.
Gambar 3. Pada fotomikrograf ini kita dapat melihat bergantungnya embrio
(panah B) pada fase 'alaqah (sekitar umur 15 hari) di dalam rahim sang
ibu. Ukuran sebenarnya dari embrio ini adalah sekitar 0.6 mm.
Gambar 3. Pada fotomikrograf ini kita dapat melihat bergantungnya embrio
(panah B) pada fase 'alaqah (sekitar umur 15 hari) di dalam rahim sang
ibu. Ukuran sebenarnya dari embrio ini adalah sekitar 0.6 mm.
Di tahun 1981, dalam Konferensi Kedokteran Ke Tujuh di Dammam, Arab Saudi, Profesor Moore berkata: "Adalah sebuah kehormatan tersendiri bagi saya untuk bisa membantu memperjelas pernyataan Al Qur'an tentang perkembangan manusia. Sangat jelas bagi saya bahwa pernyataan tersebut tentulah sampai kepada Nabi Muhammad dari Allah, karena hampir semua pengetahuan mengenai hal ini baru ditemukan berabad-abad kemudian. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa Nabi Muhammad tentulah merupakan Utusan Allah.
Kemudian, Profesor Moore ditanya: "Apakah ini berarti bahwa anda mempercayai Al Qur'an merupakan firman Allah?" Ia menjawab: "Saya tidak keberatan untuk menerima hal tersebut."
Maka apakah
mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari
sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di
dalamnya.
(An-Nisa : 82)
(An-Nisa : 82)